Dengan udara di Delhi yang kembali beracun, ibu kota negara ini diselimuti kabut asap karena Indeks Kualitas Udara (AQI) anjlok ke kategori “parah” minggu ini. Pemerintah Delhi, yang dipimpin oleh Kepala Menteri Rekha Gupta, telah meluncurkan serangkaian langkah darurat untuk mengatasi memburuknya kualitas udara, termasuk larangan kegiatan konstruksi dan pengalihan sekolah hingga kelas 5 ke mode hibrida.

Mengapa kualitas udara Delhi memburuk lagi?

Tingkat polusi di Delhi melonjak tajam selama beberapa hari terakhir karena berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca yang stagnan, emisi kendaraan, debu, dan pembakaran jerami di negara bagian tetangga. Menurut data yang tercatat pada Selasa dan Rabu pagi, AQI Delhi secara keseluruhan masih berada dalam kisaran parah, yang menunjukkan bahwa udara tidak aman bahkan bagi orang sehat.

Komisi Pengelolaan Kualitas Udara (CAQM) merespons dengan memberlakukan Tahap III Rencana Aksi Tanggap Berjenjang (GRAP) di seluruh Wilayah Ibu Kota Nasional (NCR). Tahap ini diberlakukan ketika AQI melewati angka 400, yang menandakan tingkat polusi berbahaya yang memerlukan pembatasan segera.

Pembatasan apa saja yang termasuk dalam GRAP Tahap III?

Dalam GRAP Tahap III, larangan total telah diberlakukan terhadap kegiatan konstruksi dan pembongkaran di wilayah NCR, kecuali untuk proyek-proyek publik penting seperti kereta api, metro, bandara, dan rumah sakit. Langkah-langkah darurat lainnya meliputi pembersihan jalan secara intensif, penyemprotan air untuk mengendalikan debu, dan pembatasan penggunaan generator diesel (kecuali untuk layanan darurat).

Pihak berwenang juga telah diminta untuk memantau titik-titik polusi dan memastikan penegakan langkah-langkah anti-kabut asap yang ketat.

Mengapa sekolah hingga kelas 5 beralih ke mode hybrid?

Kepala Menteri Rekha Gupta mengumumkan bahwa sekolah hingga kelas 5 akan beralih ke mode hibrida, yang memungkinkan kelas daring dan tatap muka. Keputusan ini diambil karena anak-anak termasuk yang paling rentan terhadap polusi udara.

Dalam konferensi pers, CM Gupta mengatakan, “GRAP 3 telah diberlakukan dan semua langkah keamanan telah diambil. Sekolah hingga kelas 5 akan diselenggarakan secara hibrida, daring, dan tatap muka.”

Ia menambahkan bahwa pemerintah telah bekerja sama dengan berbagai departemen untuk memastikan keselamatan anak-anak dan meningkatkan kualitas udara di seluruh kota.

Langkah apa yang diambil pemerintah Delhi untuk memerangi polusi?

CM Gupta meyakinkan warga bahwa pemerintahnya telah mengambil langkah-langkah proaktif selama berbulan-bulan untuk mengendalikan polusi udara. Ia mengatakan upaya-upaya seperti pembersihan mekanis, penyemprotan air, pengurangan debu, pengangkutan sampah, dan pemantauan titik-titik polusi sedang dilakukan dengan penuh ketulusan.

“Kota-kota di sekitar Delhi memiliki dampak besar terhadap polusi. Langkah-langkah yang diambil pemerintah Delhi dilakukan dengan penuh ketulusan. Baik itu penyemprotan air, mitigasi debu, maupun pengendalian asap, kami bekerja dengan sekuat tenaga,” ujarnya.

Kepala Menteri juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah telah diinstruksikan untuk mendokumentasikan visual “sebelum dan sesudah” pengangkutan sampah dan kegiatan kebersihan untuk memastikan akuntabilitas.

Apakah ada kesalahan pada data kualitas udara Delhi?

Menanggapi kekhawatiran mengenai masalah teknis singkat pada tampilan data AQI, CM Gupta mengklarifikasi bahwa kelalaian tersebut tidak spesifik untuk Delhi.

“Hasil pembacaan tidak tersedia selama lima atau enam jam karena masalah tingkat nasional. Data Delhi tetap akurat dan terlihat selama periode tersebut. Pemerintah selalu waspada terhadap setiap langkah dan memastikan transparansi penuh,” ujarnya.

Apa yang akan terjadi di Delhi?

Karena ibu kota terus berjuang mengatasi peningkatan polusi setiap musim dingin, pemerintah mengimbau warga untuk menghindari aktivitas luar ruangan yang tidak perlu, menggunakan transportasi umum, dan mematuhi imbauan pengendalian polusi. Para ahli mengatakan kondisi cuaca mungkin sedikit membaik dalam beberapa hari mendatang, tetapi upaya berkelanjutan sangat penting untuk memastikan pemulihan jangka panjang.

Krisis udara yang berulang di Delhi sekali lagi menyoroti perlunya kerja sama regional antar negara bagian tetangga, standar emisi kendaraan yang lebih ketat, dan inisiatif ramah lingkungan berskala besar untuk mengatasi salah satu tantangan kualitas udara perkotaan terburuk di dunia.